Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

kembali isis tulisan dari Taufik  Ismail, begitu luar biasanya tulisan beliau mempengaruhi saya dalam berpikir dan bertindak..have anice reading ^^..

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya
yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu
dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat
membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai
pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya
saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya
saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau
adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu,
mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota
pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu,
tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik
karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya
merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak
dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya
menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama
juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa
melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang
kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu
banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang
taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di
Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani
pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan
internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan
situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah
pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba
menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa
pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal
berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan
fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity
Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy
Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan,
yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung,
ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri.
Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy
Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model
yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat
dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi
dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirak
an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya
pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang
memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin,
apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan
kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal,
maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut
akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan
dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan
banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum
haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu
pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya
kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka
terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati
perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang
sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat
tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca
cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan
penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di
kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol
dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

~ by nangbau on September 23, 2008.

Leave a Reply